Ternyata menunggu itu indah…
October 18th, 2007 by breakingdesystemBanyak orang yang mengatakan bahwa menunggu itu membosankan. Tapi memang ada saat-saat dimana yang bisa kita lakukan hanya menunggu. Hanya itu…
Jika dihitung, sore ini sudah menginjak soreku yang kedua di Jakarta. Beberapa kali aku mencuri-curi pandang ke luar rumah, menunggu seseorang yang biasanya duduk di kursi itu. Namun hingga saat ini tak juga kudapati ia disana.
“Mmm… koq ga ada DIA ya?” itulah pertanyaan yang pertama kali kulontarkan pada adikku ketika kami baru sampai di Jakarta. Dan dengan sedikit menggoda, adikku menjawab, “Kata siapa? Tadi ada koq. Mas XXX tambah gendut.” Dan aku hanya menggaruk-garuk kepala. Kemana sih DIA?
Hari kedua aku mendatangi rumahnya, yang tepat berada DI SEBELAH rumah nenekku, rumah yang kini sedang kusinggahi. Bersama ayah dan ibu, kami bersilaturahmi. Tentu saja aku datang dengan “niat terselubung”.
Di rumahnya, lagi-lagi yang kudapati hanya kedua kakak, keponakan, serta kedua orang tuanya. Kami mengobrol lama. Sesekali kulirik ke arah kamarnya, berharap ia akan muncul. Aku sudah gemas saja karena setelah setengah jam berlalu, ia tak kunjung tiba. Ingin bertanya pun aku malu. Untung ada ibuku. “XXX mana?” tanyanya memecah kebuntuan. “Oh, biasa..lagi tidur. Dia mah ngalong sih mbak. Semalem baru pulang jam 3…”. Haduh! Sahutku menepuk jidat sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Karena belum jua bertemu, aku pun akhirnya lebih sering duduk di ruang tamu dan memilih berpanas-panas ria ketimbang tidur-tiduran di kamar ber-AC. Dari ruang tamu, aku bisa mengawasi jika suatu saat dia lewat. Atau jika ingin mengawasi lebih bebas lagi, aku akan keluar dan duduk di kursi yang biasa kami tempati.
Namun hasilnya nihil. Yang kudapati hanya kedua kakaknya, yang tiba-tiba saja menjadi akrab denganku. “Mas XXX mana sih mbak?” sahutku sore itu. “Dia kerja Sa…! Kebagian shift sore. Tar baru pulang jam 12 malem.”
Yah…. Sahutku kecewa. Tentu saja dalam hati. Gengsi.
Aku putus asa. Kecewa. Hari ini aku tak akan bisa mendapatinya. Pasti setelah bekerja, ia akan begadang, lalu tidur sampai siang. Sementara besok pagi aku harus pergi ke Bekasi. Entah bisa bertemu dengannya atau tidak. Dan entah kapan aku akan ke Jakarta lagi.
Adzan Magrib. Kusambut dengan lunglai. Aku teringat bahwa doa kita akan dijawab saat Adzan dan hujan. Dengan pasrah aku berdoa, “Tuhan, tolong dong, jangan biarkan aku pulang sebelum aku bertemu dengannya…”
Tuhan yang sedang bermain-main, pasti iba melihat gadis kecil yang manis ini sedang kesusahan. Atau dia ingin memberikan kejutan kecil untukku, sehingga saat itu doaku perlahan dikabulkan. “Nis, kata papa besok gak jadi ke Bekasi, soalnya uwa hari Selasa mau ke Kuningan. Jadi ke Bekasinya hari Selasa aja..” Yes..!!! Sahutku bersorak dalam hati. Setidaknya aku masih punya satu hari.
*****
Bila nanti engkau disandingku… Miliki aku dengan segala kelemahanku.. Dan bila nanti engkau disandingku… Jangan pernah letih tuk mencintaiku…
Malam ini aku tidur di rumah sepupuku. Bukan di rumah nenek. Jam 3 pagi kudengar lirik lagu ini. Aku terbangun. “Mas…kamu dimana sih? Kita bisa ketemu gak ya?” lirihku dalam hati.
Jam 5 pagi aku bangun. Lalu tertidur lagi. Jam 8 kembali bangun. Tertidur lagi. Jam 10 bangun. Lalu makan. Aku dan saudara-saudaraku saat itu persis Singa Padang Masai yang malas gara-gara kekenyangan…
Tapi pikiranku saat itu tak tenang. Aku pulang ke rumah nenek, berharap melihat ia sedang duduk di kursi itu. Tak ada. Dan aku kembali lagi ke rumah sepupuku. Jam sebelas aku kembali ke rumah nenek. Tetap tak ada. Kulirik jam dinding. Pukul setengah dua… Sebentar lagi ia akan masuk kerja. Dan mungkin ini adalah kesempatan terakhirku.
Sebenarnya saat itu aku sudah pasrah. Aku mencoba untuk tertawa, melihat begitu hebatnya Tuhan dalam mengaduk-aduk perasaan juga nasibku. Pasti saat itu ia sedang tertawa melihat aku yang sedang kebingungan. Rumah kami tak ada jarak, tapi kami tak bisa bertemu. Padahal adikku bisa. Ayahku bisa. Saat itu aku baru mengerti ungkapan “Kami begitu dekat, tapi begitu jauh….”
Saat aku pasrah, justru aku bisa bertemu dengannya. Kejutan yang kecil, tapi buatku sungguh sangat manis. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Tapi yang jelas aku bahagia saat melihatnya duduk di kursi itu. Si jelek yang smakin gendut itu. Si tukang tidur itu. Si tukang bercanda itu. Si tukang makan itu. Si penggoda cewek itu. Si tukang bikin kangen itu…
Pertama kali kembali bertemu, dengan cengiran khasnya, DIA berkata, “Eh, Cha! Sini makan! Tapi jangan minta yang punya mas ya! Soalnya nanti mas ga kenyang. Hahaha…!!” Tuh kan! Dasar jail!
Dan kami pun berbincang-bincang. Tidak berdua, karena di sana sedang banyak orang. Lalu sepupuku bertanya, “Cha, jadi ga mau jalan-jalan?”
“Mau kemana sih?” tanya DIA sambil menggoda. “Ke pantai,” jawabku saat itu malu-malu kucing. “Hwahahahaha…..masa penggemar F1 maenannya ke pantai? Ke Sentul dong!” Uugh…dasar! Tapi aku senang, karena DIA masih ingat hobi-ku saat kelas 1 SMA. Padahal itu 5 tahun yang lalu.
Aku langsung masuk ke rumah nenek setelah tau bahwa hari ini DIA tidak bekerja. Sepetinya keberuntunganku masih akan berlanjut sampai nanti malam. Hehehehe….
*****
Sudah sejak jam setengah 7 malam aku duduk di kursi ini. Tentu saja aku menunggu DIA keluar dari rumahnya. Entah mengapa aku yakin DIA akan keluar.
Memang agak lama. Beberapa kali kulirik saat pintu pagarnya terbuka, berharap ia keluar. Dan beberapa kali kulihat bukan DIA yang keluar. Namun aku belum mau menyerah. Tersenyum! Karena aku tau aku tinggal menunggu…
Benar saja. Setelah berapa lama, dari arah kanan muncullah DIA bersama sepeda motornya. Rupanya sedari tadi ia tidak di rumah. Ketika melihatku, masih dengan cengiran khasnya, ia bernyanyi ala Matta (atau Uut Permatasari?), “O..o..Icha ketahuan…”. Dan aku hanya tersipu malu. Entah karena pandangan matanya, atau karena aku memang ketahuan sedang menunggunya…
Ia pun berlalu ke dalam rumahnya. Walaupun singkat, tapi aku puas. Hatiku pun masih berbunga-bunga. Hihihi…lucu rasanya menceritakan kisah ini…
Aku pun ikut berlalu, melangkah ke dalam rumah. Rasanya besok aku bisa pergi ke Bekasi dengan tenang…
Sejam berlalu. Aku menonton film dari para finalis Eagle Awards. Sebenarnya aku masih berfikir, si jelek itu kangen juga gak ya? Dan tiba-tiba adik laki-lakiku berseru dari belakang. “Mbak Icha, dicariin mas XXX tuh! Cepetan! Keburu masuk lagi….”
Deg. Setengah berlari aku keluar. Di depan pintu, dengan lirikan nakalnya, adikku yang perempuan menunjuk pada kursi di depan rumah nenekku. Aku semakin tersipu. Sepertinya aku mudah ditebak saat sedang menyukai seseorang…
Aku duduk di sampingnya. Ia menoleh, dan hanya berujar pelan, “Eh, Cha…” Dan kami pun sesaat terdiam. Ia menghisap rokoknya, sementara mukaku saat itu memerah. Ada sesuatu dalam dada ini yang ingin berlompatan keluar. Namun aku hanya bisa terdiam dan tertunduk malu…
Saat itu aku tahu, perasaan kami sama. Yah…sejauh apapun kami melangkah, pada akhirnya kami akan tetap kembali.. Pun aku. Pada DIA, yang selalu menemaniku sejak aku kecil, tiap kali aku ke Jakarta. Saat aku kecil, saat kami sama-sama nakal, saat dia mandi dengan langsung masuk ke bak, saat kami menonton pertandingan tujuh belasan bersama, atau saat ia berjalan dengan merangkul pundakku.
Aku tau semakin hari kami semakin canggung. Entah berapa kali lagi kami akan saling menunggu begini. Apalagi kami semakin beranjak dewasa. Tapi aku tak ingin ini berlalu… Ingin tetap begini saja… Biar kami saling merindukan masing-masing…
“Mas, tetep jadi mas ku ya….!” Akh..ingin sekali kuucapkan kata-kata ini…