Ternyata menunggu itu indah…

October 18th, 2007 by breakingdesystem

Banyak orang yang mengatakan bahwa menunggu itu membosankan. Tapi memang ada saat-saat dimana yang bisa kita lakukan hanya menunggu. Hanya itu…

            Jika dihitung, sore ini sudah menginjak soreku yang kedua di Jakarta. Beberapa kali aku mencuri-curi pandang ke luar rumah, menunggu seseorang yang biasanya duduk di kursi itu. Namun hingga saat ini tak juga kudapati ia disana.

“Mmm… koq ga ada DIA ya?” itulah pertanyaan yang pertama kali kulontarkan pada adikku ketika kami baru sampai di Jakarta. Dan dengan sedikit menggoda, adikku menjawab, “Kata siapa? Tadi ada koq. Mas XXX tambah gendut.” Dan aku hanya menggaruk-garuk kepala. Kemana sih DIA?

Hari kedua aku mendatangi rumahnya, yang tepat berada DI SEBELAH rumah nenekku, rumah yang kini sedang kusinggahi. Bersama ayah dan ibu, kami bersilaturahmi. Tentu saja aku datang dengan “niat terselubung”.

Di rumahnya, lagi-lagi yang kudapati hanya kedua kakak, keponakan, serta kedua orang tuanya. Kami mengobrol lama. Sesekali kulirik ke arah kamarnya, berharap ia akan muncul. Aku sudah gemas saja karena setelah setengah jam berlalu, ia tak kunjung tiba. Ingin bertanya pun aku malu. Untung ada ibuku. “XXX mana?” tanyanya memecah kebuntuan. “Oh, biasa..lagi tidur. Dia mah ngalong sih mbak. Semalem baru pulang jam 3…”. Haduh! Sahutku menepuk jidat sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Karena belum jua bertemu, aku pun akhirnya lebih sering duduk di ruang tamu dan memilih berpanas-panas ria ketimbang tidur-tiduran di kamar ber-AC. Dari ruang tamu, aku bisa mengawasi jika suatu saat dia lewat. Atau jika ingin mengawasi lebih bebas lagi, aku akan keluar dan duduk di kursi yang biasa kami tempati.

Namun hasilnya nihil. Yang kudapati hanya kedua kakaknya, yang tiba-tiba saja menjadi akrab denganku. “Mas XXX mana sih mbak?” sahutku sore itu. “Dia kerja Sa…! Kebagian shift sore. Tar baru pulang jam 12 malem.”

Yah…. Sahutku kecewa. Tentu saja dalam hati. Gengsi.

Aku putus asa. Kecewa. Hari ini aku tak akan bisa mendapatinya. Pasti setelah bekerja, ia akan begadang, lalu tidur sampai siang. Sementara besok pagi aku harus pergi ke Bekasi. Entah bisa bertemu dengannya atau tidak. Dan entah kapan aku akan ke Jakarta lagi.

Adzan Magrib. Kusambut dengan lunglai. Aku teringat bahwa doa kita akan dijawab saat Adzan dan hujan. Dengan pasrah aku berdoa, “Tuhan, tolong dong, jangan biarkan aku pulang sebelum aku bertemu dengannya…”

Tuhan yang sedang bermain-main, pasti iba melihat gadis kecil yang manis ini sedang kesusahan. Atau dia ingin memberikan kejutan kecil untukku, sehingga saat itu doaku perlahan dikabulkan. “Nis, kata papa besok gak jadi ke Bekasi, soalnya uwa hari Selasa mau ke Kuningan. Jadi ke Bekasinya hari Selasa aja..” Yes..!!! Sahutku bersorak dalam hati. Setidaknya aku masih punya satu hari.

*****

Bila nanti engkau disandingku… Miliki aku dengan segala kelemahanku.. Dan bila nanti engkau disandingku… Jangan pernah letih tuk mencintaiku…

Malam ini aku tidur di rumah sepupuku. Bukan di rumah nenek. Jam 3 pagi kudengar lirik lagu ini. Aku terbangun. “Mas…kamu dimana sih? Kita bisa ketemu gak ya?” lirihku dalam hati.

Jam 5 pagi aku bangun. Lalu tertidur lagi. Jam 8 kembali bangun. Tertidur lagi. Jam 10 bangun. Lalu makan. Aku dan saudara-saudaraku saat itu persis Singa Padang Masai yang malas gara-gara kekenyangan…

Tapi pikiranku saat itu tak tenang. Aku pulang ke rumah nenek, berharap melihat ia sedang duduk di kursi itu. Tak ada. Dan aku kembali lagi ke rumah sepupuku. Jam sebelas aku kembali ke rumah nenek. Tetap tak ada. Kulirik jam dinding. Pukul setengah dua… Sebentar lagi ia akan masuk kerja. Dan mungkin ini adalah kesempatan terakhirku.

Sebenarnya saat itu aku sudah pasrah. Aku mencoba untuk tertawa, melihat begitu hebatnya Tuhan dalam mengaduk-aduk perasaan juga nasibku. Pasti saat itu ia sedang tertawa melihat aku yang sedang kebingungan. Rumah kami tak ada jarak, tapi kami tak bisa bertemu. Padahal adikku bisa. Ayahku bisa. Saat itu aku baru mengerti ungkapan “Kami begitu dekat, tapi begitu jauh….”

Saat aku pasrah, justru aku bisa bertemu dengannya. Kejutan yang kecil, tapi buatku sungguh sangat manis. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Tapi yang jelas aku bahagia saat melihatnya duduk di kursi itu. Si jelek yang smakin gendut itu. Si tukang tidur itu. Si tukang bercanda itu. Si tukang makan itu. Si penggoda cewek itu. Si tukang bikin kangen itu…

Pertama kali kembali bertemu, dengan cengiran khasnya, DIA berkata, “Eh, Cha! Sini makan! Tapi jangan minta yang punya mas ya! Soalnya nanti mas ga kenyang. Hahaha…!!” Tuh kan! Dasar jail!

Dan kami pun berbincang-bincang. Tidak berdua, karena di sana sedang banyak orang. Lalu sepupuku bertanya, “Cha, jadi ga mau jalan-jalan?”

“Mau kemana sih?” tanya DIA sambil menggoda. “Ke pantai,” jawabku saat itu malu-malu kucing. “Hwahahahaha…..masa penggemar F1 maenannya ke pantai? Ke Sentul dong!” Uugh…dasar! Tapi aku senang, karena DIA masih ingat hobi-ku saat kelas 1 SMA. Padahal itu 5 tahun yang lalu.

Aku langsung masuk ke rumah nenek setelah tau bahwa hari ini DIA tidak bekerja. Sepetinya keberuntunganku masih akan berlanjut sampai nanti malam. Hehehehe….

*****

            Sudah sejak jam setengah 7 malam aku duduk di kursi ini. Tentu saja aku menunggu DIA keluar dari rumahnya. Entah mengapa aku yakin DIA akan keluar.

            Memang agak lama. Beberapa kali kulirik saat pintu pagarnya terbuka, berharap ia keluar. Dan beberapa kali kulihat bukan DIA yang keluar. Namun aku belum mau menyerah. Tersenyum! Karena aku tau aku tinggal menunggu…

            Benar saja. Setelah berapa lama, dari arah kanan muncullah DIA bersama sepeda motornya. Rupanya sedari tadi ia tidak di rumah. Ketika melihatku, masih dengan cengiran khasnya, ia bernyanyi ala Matta (atau Uut Permatasari?), “O..o..Icha ketahuan…”. Dan aku hanya tersipu malu. Entah karena pandangan matanya, atau karena aku memang ketahuan sedang menunggunya…

            Ia pun berlalu ke dalam rumahnya. Walaupun singkat, tapi aku puas. Hatiku pun masih berbunga-bunga. Hihihi…lucu rasanya menceritakan kisah ini…

            Aku pun ikut berlalu, melangkah ke dalam rumah. Rasanya besok aku bisa pergi ke Bekasi dengan tenang…

            Sejam berlalu. Aku menonton film dari para finalis Eagle Awards. Sebenarnya aku masih berfikir, si jelek itu kangen juga gak ya? Dan tiba-tiba adik laki-lakiku berseru dari belakang. “Mbak Icha, dicariin mas XXX tuh! Cepetan! Keburu masuk lagi….”

            Deg. Setengah berlari aku keluar. Di depan pintu, dengan lirikan nakalnya, adikku yang perempuan menunjuk pada kursi di depan rumah nenekku. Aku semakin tersipu. Sepertinya aku mudah ditebak saat sedang menyukai seseorang…

Aku duduk di sampingnya. Ia menoleh, dan hanya berujar pelan, “Eh, Cha…” Dan kami pun sesaat terdiam. Ia menghisap rokoknya, sementara mukaku saat itu memerah. Ada sesuatu dalam dada ini yang ingin berlompatan keluar. Namun aku hanya bisa terdiam dan tertunduk malu…

Saat itu aku tahu, perasaan kami sama. Yah…sejauh apapun kami melangkah, pada akhirnya kami akan tetap kembali.. Pun aku. Pada DIA, yang selalu menemaniku sejak aku kecil, tiap kali aku ke Jakarta. Saat aku kecil, saat kami sama-sama nakal, saat dia mandi dengan langsung masuk ke bak, saat kami menonton pertandingan tujuh belasan bersama, atau saat ia berjalan dengan merangkul pundakku.

Aku tau semakin hari kami semakin canggung. Entah berapa kali lagi kami akan saling menunggu begini. Apalagi kami semakin beranjak dewasa. Tapi aku tak ingin ini berlalu… Ingin tetap begini saja… Biar kami saling merindukan masing-masing…

“Mas, tetep jadi mas ku ya….!” Akh..ingin sekali kuucapkan kata-kata ini…

Pagi ini mataku kembali basah…

September 28th, 2007 by breakingdesystem

Lagi-lagi…diejek… menjadi bahan cemoohan. Terulang lagi… Membuat aku harus membiasakan diri untuk tak menjadi bagian dari kerumunan kelompok. Aku harus meyakinkan diri bahwa aku adalah individu yang utuh, dan bertahan dengan kekuatanku sendiri. Menjadikan hidupku ini sebagai sebuah pertarungan, antara berani tegak di kaki sendiri, atau berpaling pada rasa takut. Walaupun benar kata seorang kawan, bahwa seringkali rasa takut itulah yang menguasaiku…
Pagi ini pun aku begitu. Lagi… dan lagi… takut… membuatku harus berlari menjauh. Sementara itu bayangan kerumunan itu terus saja membayangiku, mengejarku, membuatku harus berlari sekuat mungkin.
Langkahku tertahan. Di depanku aku melihat seekor ular dan seekor anjing. Awalnya ular itu mencoba menghalangiku. Sementara kerumunan itu semakin mendekat. Walaupun pada akhirnya aku tahu bahwa ular dan anjing itulah yang akan menyemangatiku, dan ingin menjadi pengikutku. Dua binatang jahat itu, mungkinkah? Entah… karena aku langsung berlari begitu kudapat kesempatan.
Kali ini aku berada dalam sebuah becak, bersama seorang teman masa kecilku, dan seorang yang tak kukenal. Pandanganku jauh menerawang, merindukan sesuatu yang amat dalam. Aku menangis. Dan kedua orang itu memandangiku dengan rasa iba.
Kini becak itu berhenti tepat di sebuah gedung sekolah saat aku kecil dulu. Aku menatap dengan penuh kerinduan, lalu kumasuki sebuah ruangan yang berisi buku-buku tua. Kutatap buku itu satu per satu, sementara kerumunan itu telah berubah menjadi sekelompok anak kecil. Kubiarkan saja mereka…
Buku itu berdebu, namun entah mengapa masih menyisakan kesan yang mendalam. Padahal kutau isinya hanya buku pelajaran ilmu pengetahuan alam. Kuraba dan kurasakan debu yang ikut menempel di tanganku, sampai sehelai kertas foto yang telah usang terjatuh. Di sana kulihat potret diriku, bersama seorang wanita. Aku sendiri tak tau siapa wanita itu…
Kudengar salah satu dari kerumunan itu berbisik, “Cuma itu kenangan yang dia miliki bersama gurunya…” dan kutatap lagi foto itu. Lama. Lama…sekali, sebelum akhirnya kumasukkan lagi foto itu ke dalam saku bajuku.
Tiba-tiba saja kerumunan itu tak mengejarku lagi. Mereka telah menjadi iba padaku, walaupun saat ini aku sudah tidak memedulikannya. Mereka sedang duduk melingkar, memandangi sebuah toples yang berisi bola kecil berwarna merah. Dan kini sosok wanita dalam potret itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku, duduk bersama kerumunan, memandang toples itu. Wanita itu kini telah menjadi tua. Ia menatapku, tanpa mengatakan apa-apa. Namun sorot matanya yang teduh mengisyaratkan aku agar duduk.
“SSsst…dengarkanlah!” sahutnya tenang. Aku memandang toples yang mengeluarkan buih yang berdesis itu. Tiba-tiba dari dalamnya aku merasakan suara angin. Dan suara dedaunan, serta suara dahan pohon besar yang ikut bergemerisik. Kudengar pula suara kicau burung yang kecil, serta jangkrik yang berbunyi tiada hentinya. Kami semua larut. Dan terdiam.
Dan wanita itu memanggilku dengan lembut untuk duduk di sampingnya. “Sini, aku ingin memberikan sesuatu yang istimewa buatmu…” Aku mendekat saat dia membuka sebuah lemari. Kutatap mata wanita itu dalam-dalam, dan dia memperlihatkan isinya. Buku. Buku-buku tua. Semuanya berisi tentang kehidupan. Dari sorot matanya aku mengerti bahwa dia ingin meninggalkanku. Lagi, untuk yang kedua kalinya. Walaupun aku tak tau, siapa wanita itu. Aku ingin berteriak. Mengapa ia menyuruhku bertahan hidup hanya dengan setumpuk buku? Mengapa aku hanya bisa mendengarkan suara alam hanya dari sebuah bola merah? Mengapa?!
Sayang, aku tak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya….
*****
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama tak kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu, memintaku meminum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku…?
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang begitu suram
Merasapi belaian angin yang menjadi dingin…

Aku terhenyak. Kubuka kedua mataku, dan saat itu aku merasa hampa. Aku rindu sesuatu…
Jam tujuh pagi. Rupanya aku hanya mimpi. Namun kurasakan untuk yang kesekian kalinya, pagi ini mataku kembali basah… Bahkan sebelum aku menyadari bahwa aku telah menangis….

Kamarku yang gelap, 29 September 2007

mengapa hidup semakin menyebalkan…

July 4th, 2007 by breakingdesystem

Telah lama aku alpha dalam menulis. Telah lama menulis bagiku telah tergantikan menjadi sebuah aktivitas mengumpulkan receh dan menumpukkan kata-kata dalam sebuah print out tugas atau jurnal ilmiah. Tak ada lagi sebuah catatan yang kutulis berlembar-lembar tiap harinya, walau sekedar mengatakan hari ini aku bermain dengan siapa dan menceritakan tentang lelaki yang kusuka.

            Entah berapa lama kebiasaan itu hilang… Menulis bagiku adalah memantau tiap harinya, dan menemukan harapan baru esok hari, ketika aku harus membuka lembar kosong yang kian hari kian menipis. Lalu apakah aku telah kehilangan harapan itu? Entahlah…

              Bagiku dunia ini semakin monoton, tidak seperti 7 atau 8 tahun lalu, saat duniaku terbentuk tiap harinya dari luka karena terjatuh saat balap sepeda, saat jempol kakiku berdarah karena terantuk batu saat bermain sepak bola, atau sekedar berenang di sebuah empang dekat rumah.

Duniaku hari ini adalah dunia yang monoton. Tak ada yang bisa dibicarakan temanku selain gebetan barunya, atau acara dagelan cinta remaja yang itu-itu saja. Bahkan anak kecil pun sekarang sudah fasih mengatakan ‘I love you’, sefasih aku mengatakan “hayu urang gelut euy!” saat adikku dijahili beberapa teman. Sehebat mereka merealisasikan perasaan cinta mereka dengan bergandengan tangan, maka sehebat itulah aku berkelahi dengan temanku tadi. Aku menang? Memang… Aku merobohkan tiang gawang tepat di atas kepalanya, yang membuat di kepala itu bersarang sebuah perban bernoda merah darah.

            Namun siapa yang bisa menjelaskan saat-saat itu, ketika satu jam kemudian ternyata kami berdua sudah asyik menonton penghitungan suara hasil pemilu di gedung RT. Dengan berteriak girang, selalu ketika partai kuning berlambang beringin itu bertambah suaranya. Padahal kemarin sore aku dan tujuh orang kawanku sempat diberi seribu rupiah oleh salah seorang simpatisan partai ka’bah. Dan dengan mengunyah es yang kami beli dari uang yang diberikan, kami berteriak lantang: “Hidup Pe-tiga!”. Seakan tidak ingat apa yang terjadi kemarin sore, paginya sepeda kami sudah ditempeli kain merah yang kami gambar kepala banteng. Semudah kami menjajakan suatu partai, semudah itulah kami melupakan perkelahian ‘berdarah’ itu.

            Tapi mengapa aku tak bisa dengan mudah melupakan masa-masa itu? Aku merasa hidupku tak lagi berputar. Memang ia pernah berputar, namun masa-masa itu perlahan telah berganti menjadi sebuah garis lurus monoton yang tak pernah berakhir, atau kembali berputar menuju masa-masa itu. Bukan hidup yang memutar garis nasib seseorang. Tapi aku. Aku yang memutarnya di kepalaku.

            Apa yang harus aku lakukan? Aku tak bisa lagi tertawa untuk kesialan yang aku terima, seperti ketika aku tertawa karena ulangan biologiku hanya mendapat nilai dua, atau ketika tiap pagi aku selalu dihukum mengepel lantai sekolah karena tak bisa berpakaian seragam rapi. Bahkan aku masih bisa tertawa puas ketika hampir dikeluarkan dari sekolah gara-gara menonjok guruku sendiri, dan karena kepergok membawa sebungkus rokok di tasku. Kini aku tak bisa menjalankan hidup ini dengan antusias. Tidak lagi.

Hhhh..romantisme memang menyenangkan. Setidaknya lebih menyenangkan daripada membayangkan salah seorang temanku yang beranjak menuju sebuah universitas di

kota

pagi ini. Beserta mall-mall nya, beserta pakaiannya yang senantiasa bersih dan baru, tak seperti saat kami beramai-ramai menceburkan diri di sawah mencari ikan betok. Hidup tak mengizinkan itu. Ia mengisyaratkan kami agar tak lagi mencari ikan yang nantinya kami ceburkan ke dalam sumur di belakang rumah temanku. Ia mengisyaratkan kami untuk mencari kehidupan melalui televisi dan serangkaian pakaian bermerk.

            Serangkaian nama dan peristiwa memang selalu bergulir. Kita akan selalu kehilangan justru di saat kita benar-benar merasakan indahnya saat-saat itu. Garis hidup akan selalu bergulir pada kekecewaan. Dan satu-satunya cara untuk mengakhirinya, adalah dengan mengakhiri garis itu. Agar ia tak bisa lagi sewenang-wenang terhadap manusia.

            Aku menulis tak lagi untuk menemukan harapan baru esok pagi. Tak ada gunanya berharap pada dunia yang semakin menyebalkan ini. Aku tak akan lagi berharap, karena aku akan benar-benar melakukannya. Memutuskan garis itu. Agar tak mati selagi masih bernyawa, dan agar tetap hidup walaupun tanpa sebuah jasad…

Senja di balik jendela…

May 28th, 2007 by breakingdesystem

Di hamparan
itu aku ingin sekali berlari, menyusuri

padang

rumput yang tak

kan

pernah ku tau dimana penghujungnya…

 Aku
berlari…hanya berlari…

 Tanpa harus memikirkan apapun, dan tanpa
tau mengapa aku harus melakukannya. Ingin kulepas semua keharusan untuk melakukan
sesuatu dalam hidupku. Supaya aku tau
bahwa aku masih menjadi pribadi yang utuh.

Masih menjadi aku…

 Ketika aku memejamkan
mata, aku bisa merasakan angin itu menyentuh wajahku yang basah oleh peluh. Aku
bisa merasakan semua bergerak hidup. Semuanya… Angin yang masih membelaiku,
butiran keringat yang mengalir pelan dari dahiku, juga gemerisik dedaunan itu.
Bisa kurasakan mereka tumbuh dan bergerak bersama denganku.

 Entah apa yang kurasakan
saat itu.
Dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tak kukenal. Sesuatu
yang kemudian kurasakan menyekat kerongkonganku. Tubuhku terpasung kaku. Saat
itu aku ingin sekali meledak, terbagi menjadi serpihan kecil dan tak kembali.
Sayangnya, sekeras apapun aku berusaha, aku hanya bisa merasakan sesuatu itu
semakin menohok dadaku.

 Rasanya aku tak bisa menahan kepalan
tanganku yang bergetar hebat. Aku ingin berteriak, namun hanya air mata yang
mengalir dari sudut mataku…

Saat itu aku memang merasakan bahwa aku masih
hidup. Namun aku ingin sekali menghilang… 

*****

Summer star, why are u red?

Last night I had a sad dream

Crying as I talked

Summer star, why are u lost?

You’re searching for me who are disappeared

That’s why I had a sad dream…

Sore ini aku
kembali dihantui mimpi itu. Dinding-dinding
kamarku seakan menjadi sekat yang
membuatku terpisah dengan diriku sendiri. Sesaat aku tak
mengenali siapa aku, dan mengapa aku ada di sini. Aku kosong…

 Dari jendela di samping
tempat tidurku, kulihat senja memerah. Setiap memandangnya, aku selalu dibawa
kembali pada mimpi itu. Aku dibawa sendiri lagi. Saat itu aku selalu berharap
seseorang mendekapku dari belakang, dan menahanku agar tidak pergi. Aku ingin
mendengar bisikan lirih yang mengatakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik
saja. Namun di senja itu tetap saja aku sendiri…. 

Entah siapa yang kurindukan di saat-saat seperti
itu. Diriku kah, atau seseorang nun jauh di sana yang tak pernah kukenal. Aku
tak tau. Berbagai bayangan berkelebat dalam pikiranku. Ketika aku memejamkan
mata atau membukanya, semuanya terlihat sama saja. Bayangan pikiran itu membuat
hidupku terasa tak berarti…

Di balik jendela kamarku, entah sudah yang
keberapa kalinya aku menatap senja yang selalu memberi rasa pedih ini. Di sini,
di dalam dadaku…Tiap kali menatapnya, aku selalu menangis. Entahlah, aku tak
tau mengapa. Tiap kali aku memejamkan mata, aku selalu takut membukanya kembali
saat senja tiba…

Namun kutau, tak ada yang mengerti apa yang
kurasakan tiap senja tiba selain aku. Karena itu biarlah bersama senja ini, aku
dibawa menghilang kembali. Biarlah rasa takut itu menyergapku. Kalau aku harus
menangis, biarlah aku menangis sekeras-kerasnya….

Biarlah aku menghilang. Mungkin dalam kehilangan
itu, aku dapat menemukan jawabannya…

 

 

Ketika aku menjadi pecundang…

January 9th, 2007 by breakingdesystem

“Hahaha… dasar oon!” Begitulan sindiran teman saya akhir-akhir ini. Setelah berulang kali menjadi grand master dalam dunia percaturan antar tetangga (dengan peserta 2 orang ^_^), belakangan ini saya memang sering kalah. Beruntun pula… Dan sindiran yang biasanya saya lontarkan, akhirnya seperti manuver yang berbalik menohok.. DUK..!!! (duh, sakitnya…!) Tapi dari situ saya berfikir. Dalam hidup mungkin memang tak selalu harus memikirkan kemenangan semata. Barangkali perlu juga sekali-kali menjadi pecundang. Supaya bisa memperoleh pelajaran, dapat melakukan refleksi diri. Merenung lalu memunculkan langkah cerdas pada tahap berikutnya. Bukankan menjadi pecundang itu ada hikmahnya? Ada saatnya kita harus belajar dari bidak-bidak pecundang, sahut saya berfilosofi.. (padahal hanya tidak mau disebut kalah ^0^). Lalu kawan saya bertanya, “Apa itu bidak pecundang?” Bidak pecundang selalu menjadi pendobrak. Prajurit pertama yang dijalankan. Seringkali bahkan selalu menjadi korban yang pertama. Jarang sekali langkahnya tuntas menjadi Bidak Promosi. Yang paling sering adalah, segera dikorbankan atau dimakan lawan, demi manuver Sang Menteri dan Raja, hingga akhir pertarungan. Itulah bidak pecundang. Cuma hebatnya, ia senantiasa ikhlas menerima suratan sebagai pecundang. Predikat dan mentalitasnya yang jarang disukai oleh para petarung pada umumnya. Bahkan yang bukan petarung pun tak pernah berfikir tentang predikat pecundang. Orang selalu ingin menjadi pemenang. Kecenderungan ini ada hampir di seluruh ranah kehidupan. Dalam lomba, persaingan, permainan, pertarungan, dll, para pesertanya selalu berlomba meraih prestasi tertinggi dan menjadi pemenang. Sebab dengan menjadi pemenang, maka akan memperoleh seluruh penghormatan dan kenikmatan duniawi. Benarkah? Kekalahan beruntun memaksa saya membedah jati diri sebagai seorang loser. Masihkah ada gunanya menjadi loser, pecundang? Awalnya memang menyakitkan. Betapa orang lain begitu merendahkan. Gojlokan, caci maki, celoteh, dan keriangan orang lain yang baru saja menundukkan saya benar-benar membuat saya terbenam. Saya bukan siapa-siapa. Namun dalam ketiadaannya itulah, saya “ada”. Kekalahan itu sesuatu yang niscaya. Dalam pertarungan selalu ada pemenang yang riang. Ada pula pecundang yang meradang. Si pemenang segera berjingkrak dan berpesta pora. Sebaliknya si pecundang segera setelah kekalahannya, mencari kambing hitam, menimpakan kebodohan dan kekalahannya pada orang lain. Ini lumrah saja. Saya pernah mengalami semua itu. Pernah berjingkrak, berpesta pora, dan tentu saja mengolok-olok lawan yang baru saja dipecundangi. Sejatinya, batas keriangan dan meradang itu sangat tipis. Hanya sesaat. Ketika kekalahan kemudian mengubah segalanya, sejatinya kita terbenam menjadi pecundang. Pecundang identik dengan kegetiran. Tetapi saat pecundang menemukan “ketiadaannya”, sesungguhnya dialah pemenang. Mengapa tidak belajar menjadi pecundang, sesekali? Bukanlah pemenang itu identik dengan menyandang beban? Bagaimana tidak? Pemenang harus selalu tampil prima, menjadi public figure, digandrungi para pengagum, harus dermawan, baik hati, dan tetek bengek yang baik-baik harus ditampilkan. Sebab, hal-hal seperti itulah yang diinginkan oleh setiap orang kepada Sang Pemenang. Dan kemenangan itu, adalah kehormatan dan kenikmatan. Tetapi penghargaan dan kenikmatan itu harus segera dibayar mahal, setelah pesta pora kemenangan berlalu. Secara moral, ia harus tampil sebagai pemenang di setiap situasi. Ia pun tidak peduli lagi bagaimana perasaannya, apa saja sesungguhnya yang ia mau, apa saja harapan-harapannya… Masyarakat cuma ingin melihat pemenang sebagai pemenang, dan bukan sebagai pecundang. Maka yang kemudian ada pada pemenang adalah tampilan yang serba manipulatif, imitasi. Mendadak ia menjadi ramah, padahal sejatinya bengis. Tiba-tiba menjadi dermawan, meski sebenarnya bakhil. Sebaliknya, si pecundang cuma merenungi diri, mengapa… mengapa… mengapa… Ketika kemudian si pecundang tak menemukan apa-apa selalin sesalnya, itulah pecundang yang sebenarnya. Dan, ketika ia tersadar akan kedunguannya, lalu bangkit membenahi diri, sesungguhnya ia menggenggam kemenangan kelak. Ia telah belajar dari bidak pecundang… [avatar aBDee]

Karena aku seorang wanita…

January 4th, 2007 by breakingdesystem

Bumi itu bulat, bukan karena ia ingin dianggap sama dengan matahari yang terus dikelilinginya. Madu itu manis, bukan semata-mata karena ada kumbang yang ingin menghisapnya. Begitu pun aku. Aku hidup seperti ini, bukan karena alasan apapun, tapi karena aku memahami, karena aku mengerti, bahwa aku seorang wanita…
Dulu, kalian mencemooh aku karena pakaianku. Kalian bilang aku aneh, aku berbeda, hanya karena aku tak mau bermain boneka dan lebih memilih bermain sepak bola. Saat aku menjadi anak yang paling pintar di kelas, kalian berebut untuk bisa mengalahkanku. Kalian bilang aku arogan, agresif, dan tidak seperti kaumku pada umumnya. Saat aku berkelahi membela adikku yang menangis karena ulah kalian, tanpa ampun kalian mencercaku yang lebih memilih untuk berdarah karena dipukul ketimbang menangis.
Kini, aku tak lagi bermain bola. Aku tak pernah lagi berkelahi. Tapi beribu alasan kalian gunakan lagi untuk menyerangku. Saat aku berjilbab kalian tertawa melihat busanaku yang lebih terlihat seperti karung ketimbang baju. Kalian bilang aku ketinggalan zaman, dan tidak seperti kaumku saat ini. Saat aku memilih memperkaya diri dengan tumpukan buku di kamarku, kalian bilang aku harus seperti kaumku yang selalu mengikuti trend busana terbaru. Saat kaumku berusaha mati-matian untuk dilirik kalian, cemooh pun masih belum berhenti karena aku yang tak peduli akan penampilanku sendiri.
Apa karena aku seorang wanita?
Waktu aku menangis, kalian bilang aku lemah. Kalian bilang menangis adalah sesuatu yang pantang dilakukan oleh kaum kalian. Padahal aku bukan kalian. Waktu aku marah, kalian bilang aku terlalu emosional. Sementara kalau kalian yang melakukannya, kalian anggap itu sebagai wibawa. Apa karena aku bukan kalian?
Suatu saat nanti, aku pun akan menjadi pendamping hidup kalian. Hidup bersama salah seorang dari kalian, dan mengabdi padanya. Apa kalian pernah tau, bahwa aku yang selama ini kalian sakiti, bahkan rela berkorban demi kalian? Apa kalian tau, bagi kaum kami, ketika kami berhasil meraih prestasi, kami akan selalu berkata bahwa ini berkat suami dan anak-anak kami yang selalu mendampingi kami. Sesuatu yang tidak akan pernah kalian katakan kalau kalian yang meraih prestasi.
Kalian tau, banyak wanita protes ketika tersiar kabar bahwa salah seorang dari kalian melakukan poligami. Tapi apa kalian tau, mengapa tak ada satu keluhan bahkan cacian dari istrinya sendiri? Seseorang yang selama ini selalu mendampinginya? Itu karena ia seorang wanita… Ia tidak seperti kalian. Baginya, hidup bersama dengan salah seorang dari kalian adalah sebuah pengabdian. Ia tetap rela bahkan ketika kalian menduakan cintanya. Baginya, cukuplah ketika kelak bangun pagi, suami dan anak-anak memeluknya seraya mengucapkan: “Ibu, kami sayang padamu” dengan perasaan yang tulus… Itulah penghargaan tertinggi untuknya. Karena apa?
Karena ia adalah wanita…
Begitu pula aku…
Aku adalah seorang wanita…

Sekedar sindiran untuk para aktivis Islam…

January 4th, 2007 by breakingdesystem

Hai! Apa kabarmu wahai para aktivis? Sudah sejauh mana perjuanganmu? Apakah masih sama seperti yang dulu?
Kemarin kudengar ada kabar tak mengenakkan mengenai dirimu. Katanya, kau yang selalu berapi-api ingin menegakkan ideologi Islam yang agung, ternyata tak bisa mengikuti aturan yang sering kau gembar-gemborkan di majelis itu. Ada apa? Apa kau mulai ragu?
Aku ingin tertawa melihatmu. Di depan majelis, kau slalu menundukkan pandangan terhadap lawan jenis. Kau bilang kalau tidak begitu, namanya zinah mata. Berdalih ingin ikut sistem pergaulan dari Illahi, kau lalu menarik diri. Tapi apa yang terjadi?
Menelepon para akhwat yang cantik, itu kau yang lakukan bukan? Siapa yang pergi bersama-sama para akhwat ke toko buku, lalu pergi makan bersama? Kau juga ya? Lalu untuk apa kau mengantarkan seorang akhwat ke sebuah toko elektronik terkenal, padahal kau tau itu bukan makhrom-mu? Hmm.. siapa ya, yang selalu memanggilku dengan sebutan ‘sayang’ ketika chatting? Kalau tak salah, lebih dari satu orang. Jangan-jangan suatu saat kalian akan ikut reality show ‘Katakan Cinta’, lalu kemudian dengan mesranya kalian berkata, “Ukhti, sudikah kiranya menjadi pacarku? Tapi jangan sampai ketahuan teman-teman lain, kita HTS-an aja…”. (Hahaha…padahal acara itu ditonton oleh seluruh orang Indonesia!)
Hohoho.. mana aturan yang kau selalu gembar gemborkan itu? Yang kutau, salah satu ciri orang munafik adalah jika berkata ia berdusta. (ehm.. apa ada yang tersindir?)
Boleh aku berpendapat? Apa yang kalian lakukan saat ini, sebenarnya secara tidak langsung membuktikan kalau aturan yang kalian gembar-gemborkan itu sudah tidak relevan. Ya… siapa yang ingin mengikuti ajakan kalian, kalau kalian sendiri ternyata melanggar apa yang kalian katakan? Siapa yang ingin mengikuti aturan yang penggagasnya saja tidak bisa melaksanakan? Bukankah peraturan itu berarti utopis? Lalu dimana idealisme itu? Apa tersembunyi di balik wajah cantik akhwat, dan wajah tampan ikhwan yang coba kalian dekati?
Kalau begitu, lebih baik seperti aku saja. Aku tidak pernah mau mengatakan kalau pacaran itu haram, karena aku takut suatu saat melakukan (aku jujur kan?). Ayolah… kalian sendiri tidak tahan kan melawan zaman? Atau lebih baik beramai-ramai kita buat saja pembenaran kalau pacaran itu dibolehkan. Yah… sebaik apapun peraturan, itu semua hanya pembenaran kan? Pembenaran bahwa memang kita mengakui kalau aturan itu baik… Tapi kalau kita tidak mengakui, ya selamanya aturan itu tidak bisa disebut baik. Karena siapa yang mau meyakini?
Kawan, mendapat kepercayaan itu mudah, lebih mudah lagi menghancurkannya. Tapi yang sulit itu adalah membinanya. Idealisme itu memang mahal, kawan! Dan apa kalian mau menggadaikannya hanya karena seorang akhwat atau ikhwan? Hoho..bagiku itu rendah sekali!
Yah.. rajin-rajinlah mengikuti manajemen syahwat!

Hoho….

October 28th, 2006 by breakingdesystem

Jangan takut jatuh,
Karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh
Jangan takut gagal,
Karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah mencoba melangkah
Jangan takut salah,
Karena dengan kesalahan yang pertaman kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua
[Hamka]

Buat seorang DJ

October 28th, 2006 by breakingdesystem

What should I do

To make u understand what I feel to u..

Honey rasanya udah bertahun-tahun aku berjuang

Kadang dengan darah, air mata juga uang

Kadang aku lelah dan ngerasa jadi pecundang

Jangan nyerah terus berusaha siapa tau berhasil

Itu yang kamu bilang waktu aku mulai ngerasa kecil

I know there’s not a lot of that I can do

Tapi kata-kata itu slalu membuatku terpacu

Kamu gak pernah ada waktu aku butuh kamu

Tapi I was really there bertahan untuk maju

Kamu ngucapin kata kasar tapi aku yang minta maaf

Gak papa mungkin emang aku yang khilaf

Berapa kali aku ngerasa terhina

Kadang aku ngerasa kamu begitu batu

Walau kutau ini resiko karena berhadapan dengan kamu

Dan kamu pun cuma ketawa walau tau kamu yang salah

Lagi-lagi aku yang harus ngalah

Honey, I make it all to u..

Seorang DJ tenar dan punya banyak penggemar

Termasuk aku yang selalu memandang kamu dengan nanar

Tiap malem pergi clubbing sama cewek yang cuma pake G-string

Tapi kamu tau, tiap malem aku sms-in kamu and say without u I’m nothing

Ikut kursus table manner biar dibilang berkelas

Olah raga golf yang emang cuma untuk kalangan atas 

Kadang aku heran jadwal check up ke dokter sama banyaknya dengan check u’r turntable

Beda sama hidupku yang kalo sakit cuma masuk puskesmas

Kadang gak minum obat dengan alasan biar tubuh ini kebal

Walaupun akhirnya bikin penyakit malah tambah bebal

Jadi aku harus gimana,

Kadang ingin berhenti

Ingin nenangin diri, ilangin bayangan kamu walau cuma dalam mimpi

Tapi ternyata dalam mimpi kamu nongol lagi

Bikin aku stress dan gak bisa berhenti

Honey, yang aku mau gak banyak

Cuma ingin dikasih kesempatan supaya aku layak

Ada

di sisi kamu, dan jadi orang yang paling berarti

Supaya kamu tau, di sini ada seseorang yang lagi berusaha setengah mati….

Jujur aja, aku emang gak banyak uang

Gak pake anting. kalung, gelang juga gak cantik-cantik amat

Kalau cari orang yang tampangnya kayak model kamu salah alamat

Coz yang aku punya cuma cinta

Walaupun aku sendiri gak tau, apa artinya

Ku gak ingin banyak bicara, cuma ingin jadi orang yang paling berharga

Ada

di sisi kamu apa adanya, di segala kondisi aku terima…

The Insider

October 6th, 2006 by breakingdesystem

Pernah nonton Veronica Guerin, Shattered Glass, War Photographer, All The President’s Men, atau The Insider?

Film yang terakhir saya sebutkan, The Insider adalah film terakhir yang baru saya tonton. Ceritanya? Waw!! Kurang begitu dimengerti, karena saya belum menonton sampai tamat. Tapi, saya memang tidak akan membahas film ini. Kalau mau, ya tonton saja sendiri. Saya hanya ingin membahas sedikit esensi dari film ini, yaitu Independensi Media.

Sedikit pembukaan, film ini bercerita tentang keengganan jaringan televisi CBS untuk menayangkan sebuah laporan tentang bagaimana industri rokok Amerika memakai zat tertentu untuk meningkatkan kecanduan perokok. Alasannya, jika mereka menyiarkan laporan ini, mereka akan dituntut yang berakibat kerugian yang cukup besar bagi mereka.

Kejadian dalam film yang mendapat piala Oscar ini, adalah kisah nyata alias fakta, walaupun Mike Wallace, orang yang mengalami kejadian ini secara langsung mengaku keberatan, karena ada kata-kata yang diciptakan dan seolah-olah diucapkan Wallace. Namun sutradara Michael Mann mengatakan film itu “pada dasarnya akurat” karena Wallace memang takluk pada tekanan pabrik rokok. Jika kata-kata diciptakan atau motivasi Wallace berbeda antara keadaan nyata dan film, Mann berpendapat itu bisa diterima.

Pelajaran pertama yang dapat kita ambil dalam film ini, adalah bahwa jurnalisme tidak bisa dicampurkan dengan fiksi. Batas antara fiksi dan jurnalisme memang harus jelas. Kovach dan Rosenstiel mengatakan dalam kasus ini, keterpaduan (utility) jadi nilai tertinggi ketimbang kebenaran harafiah. Fakta, disubordinasikan kepada kepentingan fiksi. Ketika Wallace mengaku keberatan jika film ini disebut fakta, Mann (sutradara film) malah membuat film itu dengan tambahan drama agar menarik perhatian penonton.

Pelajaran kedua, kita harus menyadari bahwa kepentingan modal korporasi besar dalam bisnis media saat ini, secara berangsur menjauhkan peran dan tanggung jawab media untuk mengedukasi dan mengadvokasi kepentingan publik. Rating dan kepentingan pasar seolah menjadi satu-satunya ukuran yang tidak bisa didobrak. Dalam sejarahnya, CBS News pun mengakui pentingnya rating. Hal ini bisa dipahami, karena memang pada awalnya program 60 minutes memiliki rating di bawah, dan baru pada tahun 70-an, acara 60 minutes menjadi acara yang paling menarik dalam sejarah pertelevisian. Sehingga sangat disayangkan, jika acara yang ratingnya tinggi ini tidak bisa tayang karena tuntutan dari satu pihak.

Intinya, diakui atau tidak, media massa atau pers memang selau mempunyai misi. Bohong jika independensi media kemudian diartikan sebagai sebuah kerja yang bebas kepentingan dan netral sepenuhnya. Seperti konsep menjadi diri sendiri, diri seperti apa yang dimaksud? Karena sudah jelas terlihat bahwa diri kita adalah manusia, yang belajar dari lingkungannya, meniru realitas yang ia lihat, dan dirinya adalah apa yang dia ikuti dan dia pahami. Entah itu dalam hal pemikiran, ideologi yang diyakini, ataupun sampai tataran falsafah hidup. Sehingga, pada dasarnya diri kita pun bukanlah diri yang benar-benar independent.

Seperti diri kita, seperti itulah media. Media pun memiliki misi ketika ia dibentuk. Karena itulah media kemudian menjelma menjadi sesuatu sangat mempengaruhi public opinion. Dan public opinion bisa dibentuk karena ada suatu nilai dan misi yang ditanamkan dalam media.

Media yang bisa meraih kepercayaan publik adalah mereka yang mendedikasikan kerja profesionalisme-nya pada kepentingan publik. Dan inilah yang disebut independensi media.

Untuk itulah, menjadi sangat penting keberadaan media yang menjadi alternatif lain dari media yang sudah ada saat ini. Media memang membutuhkan dana operasional, namun janganlah hal ini yang kemudian menjadi satu-satunya tolak ukur subjektivisme media. Perlu dikaji ulang tujuan awal sebuah media itu dibentuk, apakah untuk memenuhi kebutuhan publik, atau memenuhi kebutuhannya sendiri melalui publik? Saat ini, masyarakat sedang menantikan sebuah media yang mengatakan bahwa, “Kami media pengabdi kepentingan publik dan tempat kami ada di lorong-lorong masa depan rakyat yang sedang digelapkan oleh kekuasaan!”

[avatar aBDee]